Selasa , 29 Juli 2014
HEADLINES
Anda Berada di: Home | Hukum & Kriminal | Mulyana: Pembunuh Holly lebih mirip “detektif swasta”

Mulyana: Pembunuh Holly lebih mirip “detektif swasta”

Holly Angela

Holly Angela

JAKARTA(CARE)– Aksi pembunuhan Holly di Apartemen Kalibata, dipastikan bukan kelompok pembunuh bayaran. Pola kerjanya, lebih mendekati ciri “detektif swasta.” Ini tercermin dari pengintaian bermarkas di tower yang sama sejak Agustus 2013.

“Kelompok pelaku sudah menyewa kamar sejak Agustus untuk enam bulan ke depan di lantai 6 Tower Ebony,  dengan tugas mengawasi dari dekat,” kata Mulyana W Kusumah, kriminolog Universitas Indonesia (UI), sesuai release yang diterima Cahayareformasi.com di Jakarta Jumat (11/10).

Pengintaian dimaksudkan sebagai pengenalan kehidupan sehari-hari korban,  termasuk relasi sosialnya. Ada pun penyiksaan berakibat kematian Holly, diyakini merupakan order susulan dari otak kejahatan. Order pertama adalah pengintaian.

Keterangan Polisi yang menyatakan korban korban diikat oleh tali charger HP, menutu Mulyana, menunjukkan adanya fakta korban dicekik dengan ikatan (ligature strangulation).

Mengikat korban, seringkali digunakan dalam kekerasan untuk memaksa korban memberikan jawaban atau keterangan  yang dikehendaki pelaku.

Hal ini diperkuat oleh fakta memar pada punggung korban, diperkirakan   akibat dipukul  berulang-ulang dengan besi berukuran 50 cm yang ditemukan di TKP.

Mulyana mengatakan, penyiksaan ini kemungkinan besar dilakukan utk memburu pengakuan atau memaksa korban memberikan keterangan tertentu.

Situasi panik yang terjadi pada para pelaku saat keamanan apartemen datang ke TKP, sehingga El Rizki tewas waktu melompat untuk  melarikan diri,  memperlihatkan kemungkinan besar pelaku bukan pembunuh bayaran profesional.

Jika peristiwa kematian Holly  dilakukan pembunuh bayaran profesional  dan sejak awal sudah ditentukan target menghilangkan nyawa korban, kelompok pelaku akan bekerja efisien, tidak memerlukan  modus operandi rumit yang memakan waktu dan risiko.

Sedangkan kelompok pengintau yang mulai dengan  penyewaan kamar apartemen sebab dengan demikian cukup banyak meninggalkan jejak. Ini semakin menunjukkan bahwa kelompok pelaku bukan pembunuh bayaran.

“Jajaran Polda Metro Jaya yang sejauh ini sudah berhasil menemukan  sejumlah fakta dan bukti serta  menangkap dua tersangka pelaku, diharapkan mengungkap  aktor perencana kejahatan,” kata Mulyana.

Polisi harus menjelaskan siapa perancang dan  pembayar kelompok pelaku. Otak kejahatan diyakini memiliki hubungan sosial  yang relatif dekat secara emosional, mengingat cara kematian korban.

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*

Anda dapat menggunakan tag dan atribut HTML: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Scroll To Top