Kamis , 31 Juli 2014
HEADLINES
Anda Berada di: Home | Daerah | Limbah pengolahan emas mencemari udara

Limbah pengolahan emas mencemari udara

Asap kuning tebal yang keluar dari cerobong sebuah toko pengolah emas.

Asap kuning tebal yang keluar dari cerobong sebuah toko pengolah emas.

LEBAK(Care)–Masyarakat Kecamatan Malingping, Kabupaten Lebak, Provinsi Banten, merasa terganggu dengan asap hasil pembakaran logam emas yang mencemari udara Malingping. Asap berwarna kuning pekat dengan bau menyengat itu keluar dari cerobong asap Toko Emas Putra Sinar Malingping milik seorang tokoh warga setempat.

“Aktivitas pemurnian emas menjadi logam mulya itu sudah berjalan bertahun-tahun. Baunya menyengat. Usaha pemurnian emas itu milik Rifai,” ujar tokoh pemuda Malingping, Zen Zaenudin, ketika dihubungi melalui telepon seluler.

Banyaknya toko emas di wilayah Lebak selatan yang mengolah sendiri lobam emas menjadi logam mulya (LM) terkait erat dengan maraknya aktivitas penambangan emas di kawasan eks areal tambang PT Aneka Tambang Cikotok, Kecamatan Cibeber, Kabupaten Lebak, yang berjarak kurang-lebih 50 kilometer dari pusat Kecamatan Malingping.

Pengepul yang mendanai aktivitas penambangan liar itu mengolah batu berbahan emas dengan cara dihaluskan kemudian digiling dengan bahan kimia merkuri, bahan kimia berat yang menjadi medium pengumpul logam emas yang dikenal oleh warga penambang dengan sebutan air raksa atau kuik.

Dari hasil olahan dengan cara diputar-putar menggunakan tabung silinder berdiameter sekira 30 cm-40 cm dan panjang antara 50 cm-60 cm itu, dari batu tambang itu pengepul mendapatkan dua logam berharga: emas murni dan perak. Dalam satu bulan, pengepul atau pemilik lobang, bisa menghasilkan sedikitnya 1/4 kilogram emas murni dan satu kilogram perak dari volume bahan tambang kurang lebih satu ton.

Di wilayah Lebak selatan saja hasil olahan tambang itu rebutan diterima toko emas, meskipun harga emas tetap mengikuti hrga internasional yang perubahannya tiga kali dalan 24 jam. Salah satu pembeli hasil penambangan ilegal itu Rifai dan ayahnya Jejen, orang terkaya di Kecamatan Malingping.

Jika logam emas yang dibeli kualitasnya baru “emas murni”, emas itu kemudian diolah kembali untuk disempurnakan menjadi “logam mulya” dengan kadar 24 karat. Nah, pada proses pengolahan batu emas menjadi emas murni, aneka pencemaran lingkungan sudah terjadi karena pengolah membuang limbah beracun berbahaya (B3) itu ke daerah aliran sungai (DAS) yang menjadi hajat hidup masyarakat.

Sementara pada proses menjadikan logam mulya, bahan kimia berat yang digunakan adalah sianida (Cn; bahasa setempat menyebutnya cangkaling atau portas-racun ikan), chlor, nitrogen dioksida, dan dinitrogen pentaoksida yang merupakan senyawa antara air keras dan asam nitrat untuk melarutkan emas.

Senyawa gas yang digunakan limbah asapnya kemudian dibuang secara serampangam mencemari udara. Sedangkan senyawa cair limbahnya dibuang ke aliran air yang mengakibatkan kematian tragis pelbagai jenis biota air, dua di antaranya koloni ikan dan udang.

“Asap itu sangat berbahaya bagi kehidupan. Jika aktif dihirup makhluk hidup, paru-paru bisa terbakar dalam kurun waktu lima tahun,” ujar seorang sumber ahli kimia.

Aktivis lingkungan Iyan Dahlan mendesak Pemkab Lebak membuat langkah-langkah antisipasi dengan cara membina pengusaha pengolahan emas berizin agar segera membuat instalasi pengolahan limbah agar tidak mencemari lingkungan.
“Usaha yang tidak berizin mah tutup saja. Pemerintah jangan segan-segan, apalagi kalah oleh kelompok masyarakat perusak lingkungan. Dahulukan kepentingan masyarakat, jangan terlalu permisif,” tegas Iyan yang ketika dihubungi tengah berada di Kecamatan Bayah, 35 kilometer dari Malingping. (Ahmad)

One comment on “Limbah pengolahan emas mencemari udara

  1. rina febriani jyenggarar on said:

    Segera hentikan, itu sangan berbahaya bagi lingkungan dan kesehatan. Mereka kebanyakan sama sekali tidak memiliki izin dan melanggar aturan Amdal. Kasihan, apalagi nanti generasi kita yang tidak tahu apa-apa akan langsung berhadapan dengan resiko. Tolong bapak-bapak penegak hukum dan bapak-bapak pemerintah untuk segera menertibkan atau menutup praktik itu. Kami sebagai warga merasa tidak nyaman dengan keberadaan itu. Para pengusaha kebanyakan hanya mengambil untung saja, tetapi tidak peduli dampak yang ditimbulkan dari usahanya….Kasihan kami pak !

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*

Anda dapat menggunakan tag dan atribut HTML: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Scroll To Top